Senin, 06 Januari 2025

Hutaraja Learning House: Hobby, Passion, and Care for Lake Toba

     

Hutaraja Learning House is a learning center located in Ulos Hutaraja Village. It was founded by Damayanti Sinaga as a medium to channel her hobby and passion for teaching English to children.

Besides her hobby and passion, Damayanti aims to help accelerate the development of local human resources in Lake Toba, especially in Samosir. She hopes the community can converse with tourists, particularly as Samosir, especially Ulos Village, is a popular tourist destination often visited by international travelers. Therefore, residents need to speak English to serve foreign guests well.

Students The majority of students at Hutaraja Learning House are elementary school children from Ulos Hutaraja Village. Some also come from outside the village, such as SDN 10 Lumban Suhi-Suhi and SD 22 Lumban Suhi-Suhi. For more than six months, children have been learning English for free, from August 2023 to January 2024. Starting in February 2024, a tuition fee of IDR 50,000 per child per month has been introduced. Currently, around 30 children actively study English, including over 20 elementary school students and five junior high school students.

Classes are held every Monday and Wednesday from 3:00 PM to 6:00 PM WIB, with elementary students attending from 3:00 to 4:25 PM and junior high students from 4:30 to 6:00 PM.

Lesson Materials The lesson materials are tailored to daily conversational needs, topic by topic. For example, when discussing the home, all household items are listed in English, and students must memorize the vocabulary. They are also required to construct sentences and read them aloud to improve their pronunciation.

This program helps prepare the younger generation to become guides capable of assisting foreign tourists.

Ulos Hutaraja Village, located within the Toba Caldera Geopark, has been designated a global tourist destination. President Jokowi has even designated Lake Toba as a Super Priority Destination. Therefore, improving local skills, especially English proficiency, is crucial.

The motivation to learn English must be boosted as the world becomes increasingly interconnected. Without proper education, children risk falling behind in terms of communication and access to information, which could lead to a lack of confidence.

Teaching English to children here is a strategic move to enhance critical thinking, competitiveness, and creativity. These skills are essential for handling the demands of a globalized world, especially in a tourism-focused area.

Challenges The main challenges faced include a lack of respect for time and lessons among the children. Despite the free initial classes, many parents were not supportive of their children's learning.

Nevertheless, Damayanti remains committed to maintaining the schedule and continues to engage with parents about the benefits the children have experienced and how the skills can be useful in life.

Limited resources such as books and teaching aids also impact the learning process. However, the core challenge remains the lack of appreciation for education.

Damayanti believes that if children have access to quality education, particularly English skills, they will be able to promote their local tourism industry and even pursue better job opportunities abroad.

This program aligns with the SDGs Goal 4: Quality Education, and Damayanti is committed to continuing it. She aspires to have a dedicated building for teaching children, as the current space belongs to a relative. Additionally, she hopes to establish a learning center in Girsang 1, where she first began teaching English to children.

Minggu, 15 Desember 2024

Huta Simandalahi, Bukti Kisah Keturunan Toga Sinaga Berpencar dari Samosir Menuju Girsang 1 Simalungun

 Simalungun, NINNA.ID– Suku Batak dikenal sebagai orang yang senang merantau, berpencar. Alasan utama biasanya untuk membuka lahan atau mencari kehidupan yang lebih baik. Demikian halnya keturunan Toga Sinaga. Toga Sinaga merupakan keturunan Raja Batak.

Silsilah Dimulai Raja Batak

Dari yang bermukim di Pusuk Buhit, keturunannya berpencar ke berbagai desa di Pulau Samosir. Salah satunya yakni Toga Sinaga bermukim di Desa Urat di Pulau Samosir.

Lama-kelamaan, keturunan Toga Sinaga pun menyebrangi Danau Toba lalu bermukim di Kabupaten Simalungun.

Dimulai dari membuka perkampungan atau huta yang ada di Sibaganding hingga menyebar ke wilayah Girsang Sipanganbolon lainnya.

Sekalipun keturunan Sinaga tersebut adalah suku Batak Toba, kenyataannya secara administrasi wilayah tersebut masuk wilayah Kabupten Simalungun.

Silsilah Toga Sinaga

Berdasarkan keterangan yang didapat dari generasi ke-13 Simandalahi yakni Samsudin Parulian Ganda Sinaga, Simandalahi merupakan keturunan dari Suhut Nihuta.





Ia menjelaskan, Suhut Nihuta punya empat anak laki-laki. Salah satunya Sorak Maunok. Sorak Maunok belakangan punya anak laki-laki yang dinamai Suhut Maraja.

Suhut Maraja memiliki dua istri. Istri pertama boru Sihotang yang memberinya putra bernama Sidasuhut dan Sidallogan.

Karena boru Sihotang meninggal, ia memperistri boru Manurung yang melahirkan Simaibang, Simandalahi, dan Simanjorang.

Jejak dari keturunan Suhut Maraja ini dapat kita temukan hingga sekarang di Kecamatan Girsang Sipanganbolon. Ada kampung atau huta yang bernama Sidasuhut, Sidallogan, Simaibang, Simandalahi, dan Simanjorang.

Huta yang dinamai Simaibang terdapat di Sipanganbolon. Huta yang dinamai Simandalahi terdapat di Girsang, Sipanganbolon, Bangun Dolok, dan Hasinggaan.

Huta Simandalahi

Hingga sekarang kita bisa menyaksikan tapak tilas keturunan Suhut Maraja bernama Simandalahi di Girsang 1 yakni di Huta Simandalahi.

Huta ini berada di ujung jalan Girsang 1, jalur sebelah kiri dari Pohon Hariara (Beringin).


Huta Simandalahi

Salah seorang traveler berkunjung ke Huta Simandalahi (foto ©Damayanti)

Setidaknya ada tiga Rumah Batak yang masih bisa kita lihat di Huta Simandalahi.

Kebanyakan keturunan Sinaga di Huta Simandalahi merantau atau berpencar ke tempat lain. Meski begitu, Huta Simandalahi statusnya masih milik marga Sinaga Simandalahi.

Tidak ada kisah kanibalisme atau hukuman mati seperti di Huta Siallagan pernah terjadi di Huta Simandalahi.

Ukuran rumahnya juga cenderung sama satu sama lain. Motif dan warna juga demikian.

Dapat disimpulkan Raja bernama Simandalahi dan keturunannya tidak terlalu menonjol dalam banyak hal.

Sekalipun demikian, sebagaimana suku Batak lainnya, keturunan Simandalahi hidup dari sektor pertanian.

Di sekitar Huta Simandalahi, ada banyak pepohonan lebat yang dapat dipastikan ditanam oleh Simandalahi dan keturunannya di masa silam.

Saat kita berkunjung kesini, kita akan melihat kebun-kebun sekitar berisi pohon durian, petai, kopi, nira dan lainnya.

Silsilah Penting bagi Suku Batak

Bagi orang Batak, tarombo atau silsilah sangat penting untuk menentukan kedekatan satu dengan lainnya.

Raja Bataklah yang mulai melestarikan silsilah yang dalam Bahasa Batak disebut Tarombo.

Huta Simandalahi

Tarombo ditulis dalam Pustaha Laklak berisi bagan tentang keturunan Raja Batak hingga ke beberapa generasi.

Jika kita perhatikan Tarombo dari Raja Batak hingga Simandalahi jelas bahwa orang Batak berasal dari leluhur yang sama. Berawal dari Siraja Batak kemudian berkembang menjadi marga-marga.

Hingga catatan silsilah berdasarkan garis keturunan ini lazim disimpan dan dituliskan dari generasi ke generasi.

Dapat dikatakan dari sekian banyak suku di Indonesia, suku Batak memiliki hasrat bawaan untuk mengetahui leluhurnya dan melestarikan nama keluarganya.

Itu sebabnya, saat berjumpa dengan sesama Batak, yang kerap ditanya adalah marga, bukan nama.

Selain itu, bagi orang Batak sangat penting punya anak laki-laki yang meneruskan nama keluarga atau marga.

Jika kelak Sobat Ninna berkunjung ke Huta Simandalahi atau jumpa dengan marga Simandalahi, ingatlah bahwa mereka adalah keturunan Toga Sinaga, marga atau boru Sinaga. Sudah tentu mereka pun adalah keturunan Raja Batak.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

 

 

Minggu, 09 Juli 2023

Materi Edukasi

Baby Shark olahraga pagi bersama anak-anak SD 66 Girsang 1 di Dolok Sirikki, Simalungun.


Bisa Bicara Langsung sama Native Speaker mantapkan! Enaknya lagi prakteknya sambil holiday di Samosir. Berminat buat perjalanan begini, yuk call me:https://Wa.me/6285297732855


Upaya anak-anak cakap dengan Bule di Samosir. Berminat buat perjalanan begini, yuk call me:https://Wa.me/6285297732855









Koleksi Foto

 







































































































































Lihat artikel lainnya

Video Dokumentasi Kegiatan Pembenahan Ekowisata Harangan Girsang Paradise